Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan yang terhormat bagi perempuan. Mahmud Syaltut, menulis: “Tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan hampir dapat dikatakan sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada laki-laki. Kepada mereka berdua diebrikan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum syari’at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka.”

Namun, banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan tersebut. Salah satu di antaranya adalah kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga tidak jarang agama (Islam) diatasnamakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan itu.

Salah satu pemahaman yang harus diluruskan adalah berkaitan dengan asal-usul kejadian wanita. Mengenai hal ini, memang ditemukan keterangan dari sejumlah hadis, yang menyatakan bahwa “wanita itu berasal dari tulang rusuk pria”. Hadis-hadis ini dipahami secara harfiyah oleh para ulama klasik, berbeda dengan ulama kontemporer yang  memaknakan hadis-hadis tersebut secara metaforis.

Berbeda dengan Alquran yang menyatakan tidak ada satupun petunjuk pasti dari Alquran yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan laki-laki. Alquran mendukung prinsip-prinsip kesamaan dan kesetaraan di hadapan Tuhan dengan menekankan unsur-unsur persamaan dalam kejadian Adam dan Hawa (perempuan).

Ketika dalil baik itu Alquran dan Hadis dipahami secara tekstual maka kesimpulannya wanita itu berasal dari tulang rusuk pria. Konsekuensi dari pemahaman ini akan merendahkan posisi wanita itu sendiri. Namun sebaliknya pemahaman dalil secara kontekstual akan mampu mengangkatkan posisi wanita dalam tempat yang sebenarnya sesuai dengan apa yang telah digambarkan oleh Alquran.

Tulisan ini akan mencoba mengungkap secara sederhana tentang asal usul kejadian wanita. Arahannya adalah untuk menempatkan wanita dalam posisi yang sebenarnya.

Asal Usul Kejadian Wanita

Hampir semua agama dan kepercayaan membedakan asal-usul kejadian laki-laki dan perempuan. Agama-agama yang termasuk dalam kelompok Abrahamic Religions, yaitu agama Yahudi, Kristen, dan Islam menyatakan bahwa laki-laki (Adam) diciptakan lebih awal dari pada perempuan. Seperti dalam Bibel ditegaskan bahwa perempuan (Hawwa/Eva) diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Berbeda dengan bibel, Alquran menerangkan asal usul kejadian tersebut di dalam satu ayat pendek, yaitu Alquran Surat an-Nisa’ (4) : 1

Artinya :

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan lelaki dan perempuan yang banyak…”

Banyak sekali pakar tafsir yang memahami kata “nafs” dalam ayat tersebut dengan “Adam”, tetapi beberapa pakar tafsir lainnya seperti Muhammad Abduh dan Al-Qasimi, mereka memahami arti nafs dalam arti jenis. Bila ayat itu dipahami dengan artian yang pertama maka sudah jelas maknanya bahwa wanita itu berasal (tercipta) dari tulang rusuk Adam itu sendiri.

Pandangan mereka ini juga didukung beberapa hadis yang senada (Bunyi hadis tersebut dapat dibaca dalam Bukhari, Juz VI, 2000,145 dan Muslim, Juz IV,t.t.,178) seperti hadis yang artinya :

“Berwasiatlah yang baik kepada perempuan sebab perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Pandangan ini pada akhirnya akan menghantarkan kepada pandangan yang bersifat negativ dengan menyatakan bahwa wanita adalah bagian dari lelaki, tanpa lelaki wanita tidak akan ada. Hal ini membawa kesan bahwa wanita itu derajat kemanusiaannya rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari ayat di atas dan  beberapa hadis pendukung yang menyatakan hal sama bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok (Adam). Sebagaimana analisa dari M.Quraish Shihab dalam “Membumikan Alquran”, bahwa tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akan berakibat fatal,sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk  yang bengkok. (M.Quraish Shihab, 1995: 271)

Menurut analisa penulis konsep yang menganggap bahwa Hawa berasal dari tulang rusuk Adam membawa implikasi fsikologis, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Fatimah Mernissi cendrung untuk mengkritisi terhadap jalur riwayat (sanad), materi hadis (matan), asal-usul (sabab al-wurud) terhadap beberapa hadis yang bisa berindikasi negativ yang akhirnya dapat memojokkan wanita, yang disitilahkannya dengan hadis-hadis misogyny (misogyny adalah kebencian kepada para perempuan, sikap misogynis berarti kegusaran laki-laki atas derajat keberadaannya yang dipersamakan dengan perempuan). Untuk itu, pemahaman terhadap ayat dan juga hadis yang menyinggung asal usul kejadian ini harus dipahami secara sebenarnya sehingga tidak menimbulkan efek negativ buat wanita itu sendiri.

Sebagaimana saran M.Quraish Shihab kembali kepada Alquran yang bercerita tentang kedudukan perempuan sehingga segala pandangan yang keliru dan tidak lurus yang  berkaitan dengan asal kejadiannya dapat diluruskan.

Alquran secara jelas tidak mengungkap atau mengatakan bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria. Alquran hanya menyinggung bahwa Adam dan pasangannya diciptakan dari esensi (zat) yang sama. Walaupun ada hadis yang menyebutkan tentang fakta tersebut hal yang demikian itu harus betul-betul dilihat kondisi yang sebenarnya. Dalam artian, hadis-hadis tersebut perlu untuk ditinjau kembali, terutama dari segi isi yang secara tekstual bertentangan dengan Alquran. Paling tidak, hadis tersebut sebagaimana kata M.Quraish Shihab perlu dipahami secara metaforis.

Ungkapan ini, sebenarnya semua bermuara agar wanita itu tidak hanya digambarkan sebagai sumber kejahatan birahi, dan dekadensi moral yang akan menjerumuskan laki-laki ke neraka. Atau bisa juga diasumsikan bahwa pandangan yang diungkap seperti oleh para ulama klasik dapat mengantar kaum laki-laki berprilaku tidak wajar. Mereka (para kaum laki-laki) akan senantiasa merasa lebih dari segalanya.

Pandangan ini juga bukan berarti bahwa wanita harus segalanya dari pria. Semua ini hanya ingin mensuasanakan agar tidak ada diskriminasi terhadap kaum wanita. Tidak ada dogma-dogma dengan berlabelkan agama yang menyatakan dan mengarahkan wanita itu harus di dapur saja, di sumur, sampai kemudian di kasur. Akan tetapi, berikanlah yang menjadi haknya. Bila wanita punya potensi apa salahnya ia berkiprah dan turut menyumbangsihkan hasil karyanya demi bangsa dan agama ini.

Kesimpulan

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa tidak ada dogma-dogma agama yang menunjukkan bahwa ada diskriminasi terhadap wanita. Ajaran Islam sangat memuliakan wanita-wanitanya. Walaupun ada hadis yang bila dipahami secara sepintas mendukung hak tesebut, itu perlu untuk dipahamkan kembali secara sebenarnya agar maknanya sesuai dengan apa yang telah diungkap oleh Alquran.

Alquran tidak pernah membedakan esensi (zat) antara pria dan wanita dalam hal penciptaannya. Mereka diciptakan dari esensi yang sama. Ini menunjukkan bahwa Alquran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadianya.

Wallahu a’lamu

About these ads