Ada dua jenis manusia: pertama, mereka yang berkata pada Tuhan, “Segala kehendak-Mu, jadilah,” dan kedua, mereka yang Tuhan berkata kepada mereka, “Ya Sudah terserah kamu saja.” (CS.Lewis, Screwtape Letters)

Banjir, badai, longsor, gempa, tsunami, gunung meletus mewarnai gambar kehidupan kita hari ini. Hal ini tentunya membawa  untuk mengkaji kembali akan orientasi kehidupan kita. Selama ini mungkin orientasi dalam mengarungi kehidupan hanya dunia semata, keridhoan ilahi dikesampingkan. Sehingga tidak memandang halal ataupun haram, yang penting enak, perut kenyang, kantong pun tebal. Untuk itu, kita semua harus meluuruskan orientasi hidup kita dengan mendasarkan terhadap keridhoan-Nya semata-mata.

Bahagianya diri kita, bila setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia ini senantiasa mendapatkan keberkahan dan keridhaan dari Allah. Bagi seorang mukmin, kenikmatan yang terbesar adalah keridhaan-Nya. Suasana keindahan akan tertanam dan terpancar dalam jiwa seorang mukmin yang disenangi, dicintai, dan diridhai Tuhannya.Untuk mendapatkan kenikmatan itu tidak cukup buat kita hanya menengadahkan tangan ke langit seperti bagaimana  mengharapkan hujan turun ke bumi tanpa adanya usaha yang maksimal dalam berbuat sehingga Allah menjadi Ridha kepada kita. Paling tidak, dalam setiap ayunan langkah, kita dituntut untuk berbuat, bersikap, dan berprilaku dengan segala hal yang membuat Allah Ridha.

Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi dengan diri kita ketika Allah menjadi murka. Allah tidak akan pernah menjadi murka bila kita senantiasa melakukan apa yang Ia harapkan. Dalam artian, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebagai ilustrasi, bila kita menjadi seorang pimpinan lalu kemudian bawahan kita melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada maka konsekwensinya kita akan memberikan sanksi kepada bawahan  itu atas kesalahannya. Begitu juga dengan seorang bawahan, ia akan senantiasa menjaga, memelihara kepercayaan yang telah diberikan oleh pimpinannya. Tidak ingin menyinggung perasaannya dan senantiasa mematuhi peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati secara bersama-sama. Itu semua dilakukan agar pimpinan menjadi senang dan bahagia. Kita tidak ingin ia menjadi marah dan benci kepada kita. Itu masih menyangkut antara kita sesama manusia (hubungan horizontal). Jadi, bagaimana hubungan kita kepada Allah (hubungan vertical)?. Kita juga akan lebih menjaga agar Allah tidak menurunkan murkanya kepada kita.

Tapi kenyataannya, manusia sering lupa diri. Berbagai keburukan, maksiyat yang dapat mendatangkan murka Allah kerap kali dilakukan. Akhirnya, antara harapan dan kenyataan menjadi tidak berimbang.

Beberapa Hal yang Membuat Allah Murka

Ajaran Islam telah memberikan aturan tentang berbagai perbuatan yang dapat menjadikan Allah murka. Di antara perbuatan yang dapat mengundang kemurkaan Allah sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah saw : “ Empat orang yang dimurkai Allah, yaitu pedagang yang suka bersumpah, fakir yang sombong, orang tua yang suka berzina, dan penguasa yang kejam,” (H.R. Nasa’i dan Baihaqi)

Pertama, pedagang yang suka bersumpah. Dalam jual beli, tawar menawar itu sudah merupakan hal yang wajar. Penjual ingin mendapatkan keuntungan dan pembeli ingin harga yang murah. Namun, transaksi ini sering sekali dikotori oleh ulah nakal sang pedagang (penjual). Dengan bersumpah ia mengatakan bahwa barang ini bagus tidak ada cacatnya, pokoknya dijamin. Padahal barang itu menyembunyikan cacat. Menipu pembeli dengan menggunakan sumpah. Sikap ini sangat tercela. Sehingga Rasulullah saw pernah bersabda : “orang yang menipu kami (sesama muslim), bukanlah golongan kami (umat Islam)”.

Beliau mengatakannya tatkala ketika beliau melewati sebuah pasar dan dikagetkan dengan makanan yang bagus-bagus. Ketika menusukkan jari tangannya ke dalam makanan tersebut, beliau menemukan tanda basah dijarinya. Beliau lalu bertanya : “hai pemilik makanan, kenapa ini basah di dalamnya?”. Dia menjawab : “karena terkena hujan, wahai rasulullah”. Kenapa kamu tidak letakkan di bagian atasnya ?” kata Rasulullah saw. (H.R.Muslim)

Janganlah dikarenakan ingin berhasil dalam transaksi kita menggunakan sumpah untuk menipu yang lain. Allah akan menjadi sangat murka terhadap pelaku kemungkaran ini : “ Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kakimu sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan di dunia kamu menghakangi manusia dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar “. (Q.S. an-Nahal (16) : 94)

Kedua, orang miskin yang sombong. Kemiskinan seyogyanya membawa kita untuk semakin dekat dengan Allah. Jika orang kaya sombong masih masuk akal sebab ada yang disombongkannya. Bila orang miskin sombong, apa yang ingin disombongkannya?. Wajar, bila Allah sangat murka terhadap orang miskin yang sombong. Walau demikian, kita semua baik kaya atau miskin tidak diperbolehkan sombong. Itu hanya milik Allah, Allah jualah yang naha kaya dan memilki segala-galanya.

Alangkah sedih, bila hidup di dunia ini susah. Untuk makan saja pun sulit apatah lagi memenuhi kebutuhan yang lain. Namun lebih sedih lagi, bila ternyata kesusahan  itu menjadikan kita kufur kepada Allah, jauh dan sombong kepada Allah. Kita tidak pernah sholat, tidak pernah mengangkatkan tangan kita untuk berdo’a seraya kepada memohon Allah. Enggan  untuk mendekatkan diri  kepada-Nya. Berhati-hatilah dengan kefakiran sebagaimana kata ‘Ali ibn Abi Thalib : “ Kefakiran dapat membawa kita menuju kekufuran “.

Semoga kita tidak termasuk orang yang susah di dunia dan susah juga di akhirat. Minimal, susah di dunia namun bahagia di akhirat. Kefakiran tidak menghalangi kita untuk terus dekat dengan Allah Swt. ingatlah, bahwa “ sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan dirinya”. (Q.S. Luqman (31) : 18)

Ketiga, orang tua yang suka berzina. Tercelanya perbuatan zina jelas berlaku untuk semua orang baik tua maupun yang muda. Namun, bagi orang yang sudah tua, udzur, semestinya makin bertambah usianya dan semakin dekat dengan azalnya maka justru semakin dekat dengan Allah. Bukan malah “tua-tua keladi, semakin tua kelakuannya semakin menjadi-jadi”. Makanya, wajar bila Allah murka dengan orang tua yang berbuat zina. Usianya yang tinggal sedikit maunya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Senantiasa bertaubat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bila sudah tua tapi masih suka berbuat zina maka mau dikemanakan arah kehidupannya.

Keempat, penguasa yang zalim. Kekuasaan bukanlah tempat kita untuk berbuat semena-mena. Berlaku zalim kepada rakyatnya, berprilaku tidak adil dalam menerapkan hukum di tengah-tengah masyarakatnya. Jangan lakukan hal-hal ini sebab Allah bisa menjadi murka. Kekuasaan itu merupakan amanah dari Allah dan juga dari rakyat. Maka, seorang penguasa harus siap untuk melayani rakyatnya. Semua penguasa harus senantiasa mengingat bahwa kita semua akan dipinta pertanggungan jawab oleh Allah atas apa yang telah kita pimpin.

Kesimpulan

Keridhaan dan kemurkaan Allah semuanya terpulang kepada kita. Tergantung dari aktivitas yang kita kerjakan dalam kehidupan ini. Apakah ayunan langkah kaki, senantiasa menuju yang disenangi, dicintai, diberkahi dan diridhai oleh Allah atau sebaliknya. Ayunan langkah kaki ini justru membuat Allah semakin jauh dengan kita dan dapat membuat ia murka.

Apakah kita merasa sudah sanggup menerima murka-Nya. Jawabannya, kita pasti tidak akan sanggup.

Berdo’alah senantiasa kepada Allah SWT.: “Ya Allah, kami layak menerima azab dan hukuman-Mu, kami tidak pantas menerima kasih sayang-Mu. Tetapi, ya Allah, kasih-Mu jauh lebih besar dari dosa kami. Jika dosa-dosa kami besar di sisi-Mu, ampunan-Mu lebih besar dari dosa-dosa kami. Tunjukilah kami, ya Allah. Ya Rohman jadikanlah beragam bencana yang Engkau timpakan kepada kami sebagai pelajaran buat kami untuk selalu dekat dengan-Mu. Amin Ya Robbal ‘alamin. Wallahu a’lam.