Ramadhan datang setiap tahun silih berganti. Ramadhan tahun lalu telah pergi dan menjauhi kita dengan meninggalkan sejuta kesan bagi yang memanfaatkannya dengan seksama. Ramadhan kini akan datang lagi, dengan membawa beragam hikmah dan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya. Pada setiap Ramadhan datang, kaum muslimin memuliakannya dengan ibadah, seperti: berpuasa, tadarrus Alquran, qiyamul lail, dan lain sebagainya. Hal itu kita lakukan karena kita telah menyadari akan pentingnya Ramadhan buat hidup kita.

Rasulullah saw. bersabda: “Wahai umat manusia. Bulan yang mulia (Ramadhan) telah mengunjungi kamu, bulan penuh keberkahan. Suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya suatu kewajiban (fardhu), sedangkan mengisi malam-malamnya dengan kebajikan-kebajikan dan pengabdian merupakan tathawwu’ (amal-amal sunat), yang amat bernilai.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Umat Islam harus memanage waktunya terlebih Ramadhan agar konsisten (disiplin) dalam mengoptimalkan waktu demi waktu sehingga berdayaguna. Hal ini merupakan kunci bagi sukses atau gagalnya, maju mundurnya, punya harga diri atau tidak komunitas Islam itu sendiri. Murtadha Muthahhari, seorang ahli Islam dari Parsi sebagaimana dikutip oleh Syahrin Harahap dalam Aktualisasi Ramadhan, menyampaikan pendapatnya: “Kita mendapati Alqur’an bersumpah dengan masa (al-‘ashr), atau bersumpah dengan bagian-bagian dari masa seperti “demi siang”, “demi malam”, “demi waktu dhuha”, dan lain sebagainya. Telah kami katakan bahwa, dari waktu-waktu ini ada hikmah dan filsafah tersendiri yang mengungkapkan pentingnya waktu-waktu itu bagi manusia, seperti waktu fajar, dhuha, malam, dan siang, dalam kehidupan manusia. Hal ini dimaksudkan agar manusia memperhatikan masa yang baik itu, memperhatikan dan merasakan bahwa semua yang pernah terjadi di zaman itu dapat mengilhamkan kebaikan, kesejahteraan serta kebahagiaan”.

Ramadhan yang berkunjung sekali dalam setahun, tak salah lagi, dia merupakan suatu waktu atau kesempatan bagi kaum muslimin mengejar dan berlomba dalam kebajikan. Ramadhan sebagai wadah penempa jasmani dan rohani, untuk menjadikan hidup bermanfaat. Karena itu perbanyaklah amal pagi dan petang, siang dan malam. Begitu istimewanya Ramadhan ini, makanya kita perlu mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, maka Allah mengharamkan jasadnya menyentuh api neraka.”

Persiapan Menuju Ramadhan

Selain kesiapan fisik (kesehatan tubuh), persiapan mental spritual (keimanan) jauh lebih penting. Untuk itu, sebelum memasuki bulan Ramadhan kita harus banyak memperbaiki hati (jiwa) kita agar senantiasa bersih. Allah berfirman dalam Alquran Surat  asy-Syams (91) : 9-10.

“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.”

Hakikat dari ibadah  yang kita kerjakan dalam bulan Ramadhan nanti adalah dalam rangka kebersihan jiwa (tazkiyah an-nafs) untuk betul-betul menjadi orang yang bertaqwa (muttaqin). Jadi, merugilah kita yang telah melaksanakan ibadah  tapi ternyata tidak mampu untuk membersihkan jiwanya, tidak betul-betul menghayati makna substansial dari ibadah  yang ia kerjakan itu.

Ada beberapa persiapan spiritual yang merupakan bagian dari kegembiraan kita menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, antara lain:

Pertama, optimalisasi sabar dan sholat dalam kehidupan. Sabar berarti mengendalikan diri dari apa yang dibenci oleh Allah Swt. (habsun nafsi ‘ala ma tukrihu). Artinya, memproses diri untuk melakukan perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt. dan tidak melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan manusia itu sendiri ke dalam kehinaan baik di mata manusia atau pun di mata Allah Swt. sedangkan sholat adalah jembatan untuk selalu berkomunikasi secara dekat dengan Allah Swt. Allah berfirman: “Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, dan melakukannya adalah berat kecuali orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah (2): 45). Khusyu’ tidak hanya dalam sholat tetapi setiap aktifitas yang dilakukan harus didasari dengan kekhusyukan. Adapun indikasinya sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Mahmud al-Hijazy dalam tafsir al-wadhih, antara lain: pertama, yakin akan datangnya hari akhir dan kelak akan bertemu dengan Allah Swt. Ini juga bermakna orang yang khusyu’ itu berjiwa visioner dan futuristic. Ilustrasinya, “jangan hanya berpikir menebang pohon dan menikmati hasilnya, tapi tanamlah pohon walaupun kita tidak sempat menikmati hasilnya”. Kedua, tanggung jawab bahwa setiap amal yang kita lakukan akan dihisab oleh Allah Swt. atau akan dipintai pertanggungan jawabannya di hadapan Ilahi. Ketiga, filosofis kembali kepada Ilahi. Keyakinan bahwa semua yang kita miliki adalah amanah dari-Nya dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Point ini harus selalu diasah dan kita latihkan dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.  

Kedua, banyak mengingat Allah dalam hati dan lisan. Dengan dzikr hati bisa menjadi tentram, sehingga dapat dengan jernih melihat berbagai persoalan yang dihadapi. Allah dalam Alquran Surat ar-Ra’du  (13) : 28 berfirman : “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.

Ketiga, membaca Alquran dan menelusuri kandungannya. Alquran memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-Nas (petunjuk bagi manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya.dalam rangka penjelasan tentang fungsi Alquran ini, Allah menegaskan : “kitab suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia” (Q.S. Al-Baqarah (2) :213). Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam adalah bagaimana memfungsikan kitab suci ini, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami dan melaksanakan petunjuk-petunjuknya tanpa mengabaikan apalagi mengorbankan budaya dan perkembangan positif masyarakat.

Keempat, menebar keperdulian. Termasuk di dalamnya adalah selalu berbuat baik kepada anak-anak yatim dan faqir miskin. Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah saw : “jika anda ingin melunakkan hati anda maka sentuhlah kepala (sayangilah) anak yatim dan berilah makan orang miskin”. (HR. Ahmad)

Kelima, banyak mengingat mati. Ketahuilah bahwa hati orang yang tenggelam dalam urusan duniawi, mengejar kesia-siaannya, dan menghambakan cinta kepada kenikmatannya yang palsu, akan lalai dari mengingat maut. Allah Ta’ala berfirman: “katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”. (Q.S. Al-Jumu’ah (62) : 8)

Keenam, senantiasa instropeksi diri. Manusia yang baik adalah yang senantiasa mengevaluasi amal yang sudah dikerjakannya pada masa lalu dalam rangka kehati-hatian berbuat untuk peningkatan kualitas amalnya ke depan. Dalam Alquran Surat al-Hasyar (59) : 18 dijelaskan : “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mengevaluasi setiap apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Kesadaran kita akan kelalaian dalam beribadah pada bulan suci Ramadhan yang lalu akan menghantarkan kita untuk lebih berhati-hati dan berbuat maksimal dalam beribadah pada bulan suci Ramadhan kali ini.

Nabi Muhammad saw. mengingatkan: “Berapa banyak orang yang melaksanakan ibadah puasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” Hadis ini menunjukkan bahwa kesiapan mental spritual (ruhaniyah) harus sejak hari ini dilakukan, sehingga pelaksanaan ibadah pada bulan Ramadhan nanti betul-betul mendapatkan berkah dan ridho dari Allah swt.

Marilah kita ucapkan: “Marhaban Ya Ramadhan” (Selamat datang bulan Ramadhan)-sembari bersiap diri baik secara fisik dan juga mental spritual. Mudah-mudahan kita masih diberikan kesempatan oleh Allah swt. untuk bertemu dengan bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba. Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’ban wa ballighna fi Ramadhan. Amin.