Alquran banyak menyatakan bahwa manusia adalah makhluk pilihan, makhluk berkualitas tinggi, makhluk kreatif dan produktif, dengan sederet istilah yang dipasang, seperti: sebagai khalifah di bumi (khalifah fil ardh), sebagai makhluk yang diunggulkan, sebagai pewaris kekayaan bumi, sebagai penakluk sumber daya alam, sebagai pengemban amanah dan lain-lain.

Dalam sejarahnya yang panjang, memang hanya manusia saja yang telah membuktikan kesanggupannya dalam memadukan beberapa macam sumber daya untuk meningkatkan kualitas hidupnya, menjadi makhluk berbudaya tinggi. Sumber-sumber daya itu adalah: sumber daya alam (natural resourches), sumber daya manusia (human resources) dan teknologi.

Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki potensi  sangat luar biasa yang merupakan bagian dari fitrahnya. Dengan potensi-potensi itu, manusia dapat mencapai kemajuannya. Namun yang menjadi persoalan, kita menyaksikan bahwa ada sekelompok manusia yang telah mencapai kemajuan begitu cepat, sementara yang lainnya tidak mengalami kemajuan, malah mundur. Mengapa ada negara-negara yang pertumbuhan sosial-ekonominya cepat, sedangkan negara-negara lain seperti Indonesia tetap berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Khususnya kepada umat Islam, kenapa kita selalu diidentikkan dengan umat yang terbelakang. Berbicara kemiskinan, mayoritas umat Islam. Berbicara kebobrokan moral yang kena juga umat Islam. Berbicara koruptor, pejabatnya umat Islam. Berbicara rendahnya persatuan dan kesatuan, apalagi kalau bukan umat Islam. Pertanyaan bagi kita semua, kenapa ini bisa terjadi?

Jawabannya kembali kepada masalah “kualitas sumber daya manusia”-nya sendiri, sejauh mana kreativitasnya dan setinggi apa tingkat produktivitasnya. Dan semua itu berawal dari sikap mental dalam memandang masalah yang dihadapi dan memandang masa depan, atau menurut istilah Walter Aigner hal itu bersumber dari spirit produktivitas, yaitu keinginan (the will) dan upaya (effort) untuk mencapainya.

Hari ini, umat Islam sebagai umat yang memiliki potensi luar biasa belum benar-benar menyadari dan meningkatkan potensinya itu ke kreativitas dan kemajuan. Akibatnya, umat Islam jalan di tempat. Untuk itu, gerakan peningkatan sumber daya umat Islam lewat mengasah potensi sudah merupakan satu kemestian.

Mengasah Potensi Diri

Sumber daya manusia yang banyak tetapi tanpa kualitas atau dengan kualitas rendah, merupakan beban. Sedangkan sumber daya manusia dengan kualitas yang baik, merupakan potensi. Sumber daya manusia yang berkualitas mempunyai dua potensi utama, yaitu: pertama, gagasan-gagasan, kreasi dan konsepsi. Kedua, kemampuan dan ketrampilan mewujudkan gagasan-gagasan tersebut dengan cara yang produktif.

Umat Islam merupakan mayoritas di negeri ini, tapi kualitasnya masih dipertanyakan. Alangkah merugi kita dengan kuantitas yang sangat besar tapi miskin ide/gagasan, rendah etos kerja dan minim prestasi. Kreativitas dan produktivitas kita masih jauh bila dibandingkan umat lain yang minoritas. Akhirnya, kita menjadi budak di rumah sendiri. Rasulullah SAW memprediksikan bahwa suatu saat umatku memang memiliki kuantitas yang banyak tapi hanya seperti buih di tengah lautan. Apa istimewanya buih di lautan? terombang ambing dipermainkan oleh ombak. Sungguh memprihatinkan kondisi umat Islam hari ini. Untuk itu, umat Islam harus membenahi kualitasnya sebagai upaya peningkatan sumber daya umat Islam. Paling tidak ada tiga dimensi yang harus diperhatikan dalam usaha memajukan kualitas umat Islam, yaitu:

Pertama, dimensi kepribadian sebagai manusia. Setiap manusia harus menyadari bahwa ia adalah makhluk potensial yang telah diciptakan Allah SWT. Alquran banyak membicarakan tentang sifat-sifat manusia. dalam hal ini ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan sebaik-baiknya (Q.S. Al-Tin (95) :5) terbaiknya penciptaan manusia bukan dari sisi basyariyahnya (biologis-fisik) akan tetapi lebih dalam artian psikologis-rasional-spritual, dan penegasan tentang dimuliakannya mahluk ini bila dibandingkan dengan mahluk yang lain (Q.S.Al-Isra’ (17) :70).

Tetapi, di samping itu sering pula manusia mendapat celaan dari Tuhan karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat Tuhannya (Q.S.Ibrahim (14) :34), sangat banyak membantah (Q.S. Al-Kahfi (18) :54) dan bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S.Al-Ma’arij (70) :19) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Alquran bertentangan antara satu dengan yang lainnya, akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Di samping menunjukkan bahwa mahluk ini mempunyai potensi untuk menempati tempat tertingi sehinga ia terpuji atau berada di tempat yang rendah dan hina sehingga ia tercela.

Untuk itu, kualitas kepribadian sebagai manusia harus tetap dijaga. Manusia tidak hanya menyandang sebagai makhluk bilogis (basyariyah) tetapi juga sebagai makhluk sosial (an-nas) dan sebagai makhluk spritual (insan). Manusia akan betul-betul menjadi manusia yang sebenarnya bila ia menghargai potensi rohaniyahnya untuk selalu dekat dengan Tuhan, ingin senantiasa bermanfaat bagi orang lain serta mampu untuk meminimalisir potensi-potensi buruknya. Dalam artian menyadarkan diri setiap manusia untuk tidak mengabaikan nilai-nilai ruhaniyah (bathin) dalam setiap kehidupannya.

Kedua, dimensi produktivitas. Dimensi ini menyangkut apa yang dihasilkan oleh manusia tadi. Sumber daya yang berkualitas itu adalah manusia yang mampu membuat atau menghasilkan satu karya yang bermanpaat bagi masyarakat atau orang lain. Sebagaimana Rasul bersabda: “Khairunnaas anfa’uhum linnaas=sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Kemampuan berkarya ini tentunya didukung oleh: kematangan intelektual (ilmu), kematangan emosional (amal), kematangan spritual (iman). Dengan ilmu, tekhnologi tinggi (High technology) akan dikuasai, dengan amal/etos kerja perekonomian akan meningkat, dengan iman/spritualitas karya yang dihasilkan memang benar-benar menciptakan kemaslahatan umat (limashlahatil umat) bukan mafsadat (kerusakan).

Ketiga, dimensi kreativitas. Dimensi ini merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir dan berbuat kreatif. Allah SWT selalu mengingatkan pikiran kita dengan kata-kata “apala ta’qilun, apala tatapakkarun, apala tatadabbarun, pa’tabiru ya ulil albab, pa’tabiru ya ulil abshar, dan lain-lain. Permasalahan umat Islam hari ini adalah malas menggunakan potensi berpikir kreatifnya. Hanya cendrung plagiat (meniru), mengikut buta (taqlid), fanatisme buta terhadap satu mazhab atau kelompok tertentu (ta’assub), kondisi-kondisi inilah yang mengungkung pikiran umat Islam untuk berpikir kreatif. Untuk itu, berpikirlah untuk menghasilkan karya terbaik buat masyarakat, bangsa dan agama.

Robert B.Sund ada mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif, antara lain: rasa ingin tahu, bersikap terbuka terhadap pengalaman baru, panjang akal dan penalaran, keinginan untuk menemukan dan meneliti, mencari jawaban yang memuaskan dan komprehensif, bergairah, aktif dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya, berpikir fleksibel dan mempunyai banyak alternatif, memiliki semangat inquiry (mengamati, menyelidiki masalah), memiliki keluasan dalam kemampuan membaca.

Muhammad Thalhah Hasan “Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia” mengatakan bahwa upaya mengembangkan gairah dan semangat berprilaku kreatif, dapat dibangkitkan dengan mengacu pada 5 (lima) masalah berikut: pertama, Fluency (kelancaran), yaitu kemampuan mengemukakan ide-ide yang dipandang mampu untuk memecahkan masalah. Kedua, Flexibility (keluwesan), yaitu kemampuan menemukan atau menghasilkan berbagai macam cara atau ide untuk memecahkan masalah diluar kategori yang biasa. Ketiga, Originally (keaslian), yaitu kemampuan memberikan respon yang unik dan luar biasa. Keempat, Elaboration (Keterperincian), yaitu kemampuan menyatakan ide secara terperinci, untuk mewujudkan ide tersebut menjadi kenyataan. Kelima, Sensitivity (kepekaan), yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan masalah sebagai tanggapan terhadap satu situasi.

Umat Islam harus segera bangkit dari keterbelakangan dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusianya. Perbaikan tidak akan terwujud  kalau tidak ada keinginan dalam diri kita masing-masing. Untuk itu, tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda perbaikan kualitas diri. Umat Islam jangan hanya bisa menjadi umat pesakitan. Umat Islam harus menjadi umat yang terbaik dengan kematangan ilmunya, kreatifitas amalnya dan kokoh bangunan keimanannya. Rasulullah saw mengingatkan kepada kita: “Orang mukmin yang kuat itu lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, masing-masing ada baiknya. Bersemangatlah mencapai apa yang berguna bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah…”. Wallahu a’lam.