Nabi Muhammad saw. bersabda: “Ada dua nikmat di mana kebanyakan manusia sering tertipu dengannya: nikmat sehat dan nikmat waktu senggang.” (H.R. Bukhari). Hadis ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Orang yang baik dan bisa sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang menghargai akan kesehatannya dan nikmat kelapangan waktunya. Penghargaan terhadap kedua hal tersebut adalah dengan berupaya untuk berbuat yang terbaik buat masa depannya.

Banyak orang yang melalaikan kedua hal ini. Ketika sehat orang banyak lupa, sehingga ia tidak perduli dengan keadaan dirinya bahwa ia bisa jatuh sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa dalam hidupnya. Ketika orang punya banyak kelapangan waktu ia menjadi lupa akan arti pentingnya kelapangan tersebut, sehingga ia terkesan menghambur-hamburkan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Orang baru mulai sadar ketika ia mengalami kesakitan, sehingga ia akan berpikir kenapa ia dulu menyia-nyiakan waktu ketika masih sehat?. Orang juga akan mulai sadar ketika ia disibukkan dengan banyak tugas, kenapa ia menyia-nyiakan waktunya ketika masih dalam kelapangan?.

Bulan Ramadhan adalah bulan mubarak, bulan yang banyak mengandung berkah bagi siapa saja yang mengisinya dengan berbagai kebajikan, baik kebajikan itu yang ukhrawi maupun sosial duniawi. Ini merupakan bulan kesempatan buat umat Islam yang beriman untuk memperbanyak bekal lewat beramal ibadah. Sebagai renungan, kita masih diberikan kesempatan oleh Allah swt. untuk berjumpa dengan Ramadhan kali ini. Nikmat kesehatan dan juga kelapangan waktu masih menghampiri kita semua. Pertanyaan buat hati kita masing-masing, apakah kita akan membiarkan Ramadhan kali ini berlalu dengan begitu saja tanpa ada peningkatan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah swt.? Untuk itu, hargailah waktu ini agar kita tidak termasuk orang yang lalai lagi merugi.

Hakikat Waktu

Hidup dan mati adalah ujian. Di dalamnya Allah swt. melihat, siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amal perbuatannya (Q.S. al-Mulk:2). Di sinilah nilai waktu menjadi sangat penting dalam kehidupan seorang hamba. Karena di atasnyalah kebaikan dan keburukan disemaikan, prestasi dan kegagalan dikukuhkan. Semakin hari amal perbuatan kita semakin bertambah, bukan menjadi sebaliknya semakin hari kualitas amal kita semakin menurun (merugi). Orang yang merugi adalah mereka-mereka yang tidak pandai menghargai waktunya. Sehingga waktu terbuang secara sia-sia tanpa ada memberikan manfaat apa-apa buat dirinya atau juga orang lain.

Allah swt. berfirman: “Demi masa, sungguh manusia berada dalam keadaan merugi, kecuali: orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan dalam kesabaran”. (Q.S. al-‘Ashr: 1-4) Pernyataan Allah swt. ini menunjukkan betapa pentinggnya waktu terlebih bila dikaitkan dengan kerugian. Untuk tidak jatuh ke lembah kerugian, maka seseorang haruslah memahami dan mengantisipasi kerugian secara benar. Dalam hadisnya, Rasulullah meriwayatkan bahwa: “Seseorang akan tergolong merugi, manakala hari ini sama saja dengan hari yang lalu, tergolong celaka manakala hari ini lebih buruk dari hari yang lalu, dan tergolong beruntung manakala hari ini lebih baik dari hari yang lalu.”

Sebagai umat Islam harus betul-betul menghargai waktu yang memiliki andil besar dalam menjadikan kita menjadi orang yang bertakwa atau tidak. Islam memandang waktu bukan sebagai materi yang bisa ditaksir harganya. Waktu adalah hidup kita sendiri. Kehilangan waktu sama artinya kehilangan umur kita. Salah seorang sufi terkemuka, Hasan al-Bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung. Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu. Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu. Kalau engkau sudah mengetahui hal itu maka segeralah berbuat! (beramal, bersiap dan berbekallah).”

Ironis sekali jika kenyataannya umat Islam hari ini dengan begitu gampangnya menyia-nyiakan waktunya padahal Allah swt. memberikan kesempatan kepadanya. Waktu kita berlalu begitu saja, tanpa zikir, pikir, dan bekerja yang bernilai positif (manfaat).  Waktu terus berjalan, bila tidak digunakan dengan bijak, maka ia-lah yang akan menggilas kita. Mempermainkan waktu sama artinya mempermainkan hidup kita. Ungkapan ahli hikmah: “al-waqtu ka as-saif, in lam taqtha’hu qatha’ka” (waktu adalah bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakan fungsi memotongnya maka ia yang akan memotongmu).

Untuk menjadi orang yang sukses diperlukan sikap disiplin dalam menghargai waktu. Sebab sukses tidak akan hadir bagi mereka yang menyia-nyiakan waktunya. John C. Maxwell (pakar komunikasi dan motivasi modern) mengatakan: “Kesuksesan dibangun setiap hari. Sukses adalah sebuah proses, jika saat demi saat terjadi peningkatan secara positif maka itulah kesuksesan yang hakiki.”

Di bulan Ramadhan, puasa yang kita laksanakan adalah mendidik kita menjadi orang yang sukses yakni orang yang bertakwa (muttaqin). Menghargai waktu di bulan Ramadhan ini adalah kunci besar buat mewujudkan harapan itu.

Ramadhan dan Manajemen Waktu

Ramadhan datang setiap tahun silih berganti. Ramadhan tahun lalu telah pergi dan menjauhi kita dengan meninggalkan sejuta kesan bagi yang memanfaatkannya dengan seksama. Ramadhan kini datang lagi, dengan membawa beragam hikmah dan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya. Pada setiap Ramadhan datang, kaum muslimin memuliakannya dengan ibadah, seperti: berpuasa, tadarrus Alquran, qiyamul lail, dan lain sebagainya. Hal itu kita lakukan karena kita telah menyadari akan pentingnya Ramadhan buat hidup kita.

Rasulullah saw. bersabda: “Wahai umat manusia. Bulan yang mulia (Ramadhan) telah mengunjungi kamu, bulan penuh keberkahan. Suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya suatu kewajiban (fardhu), sedangkan mengisi malam-malamnya dengan kebajikan-kebajikan dan pengabdian merupakan tathawwu’ (amal-amal sunat), yang amat bernilai.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Ramadhan yang berkunjung sekali dalam setahun, tak salah lagi, dia merupakan suatu kesempatan bagi kaum muslimin mengejar dan berlomba dalam kebajikan. Ramadhan sebagai wadah penempa jasmani dan rohani, untuk menjadikan hidup bermanfaat. Karena itu perbanyaklah amal pagi dan petang, siang dan malam. Adapun usaha menyantuni, mempermudah kesukaran orang lain, memudahkan yang mudah (tidak mempersukar) dan memperingan yang berat (tidak tambah diperberat), mendamaikan orang-orang bertengkar, membaca Alquran, ber-tasbih, ber-tahmid, bertakbir, berdo’a, memohon kebajikan kepada Allah swt., mengembalikan orang yang sesat ke jalan yang benar, menunaikan tugas dengan tepat, menunaikan amanah dan bertanggung jawab, menahan diri dari mencerca dan berkata-kata yang mubazir, menahan nafsu dari keserakahan, tamak, rakus, sombong, iri hati, emosi dan berbagai sifat atau nafsu angkara murka, semuanya itu termasuk amal kebajikan yang ikut menghiasi dan memperindah Ramadhan bagi diri setiap orang yang berpuasa.

Ramadhan yang mengandung banyak hikmah dan keistimewaan, jangan biarkan berlalu begitu saja. Waktu yang diberikan kepada kita semua di bulan Ramadhan ini hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Ramadhan hari ini akan menjadi wadah untuk menempa diri, mengendalikan diri dari hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Allah swt. Sehingga ketika Ramadhan pergi, amal kita tetap senantiasa mengacu kepada apa yang telah Allah swt. aturkan kepada kita.

Penghargaan akan besarnya peran waktu sangat perlu untuk ditanamkan dalam jiwa kita masing-masing. Sehingga apa yang kita cita-citakan dalam bulan Ramadhan ini akan mampu kita wujudkan, yakni menjadi orang-orang yang bertakwa. Ciri khas orang yang bertakwa tidak hanya tampak pada bulan Ramadhan saja, tapi setelah ramadhan berlalu, nilai-nilai ketakwaan tetap senantiasa terpelihara dan terwujud dalam kehidupannya.

Semoga catatan singkat ini akan mengkristal di benak dan hati kita, sehingga melahirkan amal terbaik dalam kehidupan kita. Ketahuilah, waktu yang telah berlalu tidak akan terulang kembali. Untuk itu, jangan sia-siakan waktu terbuang dengan percuma. Wallahu a’lam.